LAPORAN
PRAKTEK KERJA LAPANGAN
PEMBANGUNAN JEMBATAN BUKET JENGKOL PADA RUAS JALAN PEUREUPOK – PARABOLA
Untuk
Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Kurikulum
pada Jurusan Teknik Sipil
pada Jurusan Teknik Sipil
Disusun Oleh:
M. IKHSAN FAKHREZA
150110168
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITA MALIKUSSALEH
2019
LEMBAR
PENGESAHAN
Laporan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan judul:
Pembangunan Jembatan Buket
Jengkol Pada Ruas Jalan Peureupok - parabola
Dilaksanakan
oleh,
Nama
Mahasiswa : M. Ikhsan Fakhreza
Nomor
Mahasiswa : 150110168
Tanggal
Pelaksanaan : 23 Juli 2018 s/d 14
Desember 2018
Tinjauan
Pekerjaan : Pekerjaan
Balok (Girder) Pra Cetak
Nomor
Inventaris : -
|
Pembimbing,
Dr.
Ing. Sofyan, ST., MT
NIP.197508182002121003
|
|
Penguji
1,
M. Kabir Ihsan, ST,. MT
|
|
Ketua
Jurusan,
Hamzani, ST., MT
NIP. 197012312005011010 |
|
Ketua
Pelaksana PKL,
Zulfhazli, ST., MT
NIP. 196703192003122001 |
|
Penguji
2,
David Sarana ST.,
MT
|
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum
wa rahmatullah wabarakatuh.
Puji syukur kehadhirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat
dan ridho-Nya, sehingga Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan judul Pembangunan
Jembatan Buket Jengkol Pada Ruas Jalan Peureupok – Parabola
dapat diselesaikan. Shalawat dan
salam semoga tersampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah merubah
peradaban dunia menuju ke peradaban berilmu pengetahuan dan berakhlak mulia.
Do’a dan penghormatan juga kepada Sultan Malikusaaleh yang merupakan pemilik
nama Universitas Malikussaleh ini.
Pada kesempatan ini
penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.
Bapak
Hamzani, ST., MT selaku ketua jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Malikussaleh.
2.
Bapak Dr. Ing. Sofyan ST., MT selaku dosen pembimbing PKL.
3.
Bapak M. Kabir Ihsan, ST,. MT selaku
dosen penguji 1
4.
Bapak David Sarana ST., MT selaku dosen penguji 2
5.
Jajaran
pimpinan Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Kabupaten
Aceh Utara yang telah menerima
penulis untuk melaksanakan PKL di Instansi nya.
6.
Teman-teman yang telah membantu dan mendukung penulis
untuk menyelesaikan laporan ini.
Dalam hal penulisan
Laporan Praktek kerja lapangan ini, kritik dan saran dari pembaca sangat
penulis harapkan agar hasil penulisan ke depan dapat menjadi lebih baik lagi.
Akhirnya kepada Allah penulis memohon ampun dan kepada pembaca penulis mohon
maaf. Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk penulis khususnya dan pembaca
umumnya. Terima kasih.
|
Lhokseumawe,
18 Januari 2018
Penulis,
|
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
1.1.
Latar Belakang
Pemerintah Aceh melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Aceh Utara telah
merencanakan Pembangunan Jembatan Buket Jengkol. Jembatan
ini difungsikan sebagai akses penghubung antar desa di Kecamatan Paya Bakong
Kabupaten Aceh Utara. Dengan adanya pembangunan jembatan ini, tentunya akan
sangat berguna bagi masyarakat yang tinggal di kecamatan tersebut maupun bagi
pendatang yang memiliki tujuan ke kecamatan tersebut dalam hal mobilisasi
pergerakan transportasi.
Mengingat sebelumnya memang telah ada jembatan
Kayu yang menghubungkan desa di kecamatan tersebut, namun fungsinya tidak
efektif sebab lebar jembatan yang sempit dan hanya mampu menerima beban
kendaran yang relatif kecil. Oleh sebab itu, pembangunan jembatan ini akan
sangat bermanfaat dan diharapkan mempercepat pertumbuhan pendidikan, ekonomi,
dan sosial di Kecamatan tersebut.
Sesuai dengan nomor Kontrak: 630/ 21/ 2018, Pembangunan
Jembatan Buket Jengkol Pada Ruas Jalan Peurupok – Parabola
Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara
dibangun dengan dana Rp. 4.680.800.000,00 (Empat Miliar Enam Ratus Delapan
Puluh Juta
Delapan Ratus Ribu Rupiah), dengan
dana berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2018. Panjang jembatan 28,6 meter dan lebar 7,5 meter (termasuk trotoar).
Proses pengadaannya dilakukan dengan cara pelelangan umum yang diikuti oleh
beberapa kemitraan.
Pemilik proyek ini
adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Aceh Utara. Proyek ini dilaksanakan oleh PT. Trio Puspa Perkasa dengan Konsultan Perencana CV. Gelora Prima Konsultan
dan Konsultan Pengawas adalah CV. Karya Seabad Consultant. Jangka waktu pelaksanaan
pekerjaan selama 168 (Seratus Enam Puluh Delapan) hari kalender dan masa
pemeliharaan 180 (Seratus Delapan Puluh) hari kalender.
1.2.
Lokasi Proyek
|
Lokasi
proyek
|
|
Lokasi
proyek
|
Sumber: Google Earth, Gampong Cot Tufah
1.3.
Struktur Organisasi Proyek
|
KUASA
PENGGUNA ANGGARAN
KEPALA
BIDANG OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN
DINAS
PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN
RUANG KABUPATEN ACEH UTARA
M. YUSUF RASYID, ST., M.S.M
NIP:
19670616 199101 1 001
|
|
PEJABAT
PELAKSANA TEKNIS KEGIATAN
KASI
PEMELIHARAAN JALAN DAN JEMBATAN BIDANG OPERASIOANAL DAN PEMELIHARAAN
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG ACEH TARA
ZAINUDIN , ST
NIP:
19751213 200604 1 002
|
|
KONSULTAN
PERENCANA
CV.
GELORA PRIMA KONSULTAN
EKA SAFITRI , ST
DIREKTRIS
|
|
KONSULTAN
PENGAWAS
CV.
KARYA SEABAD CONSULTANT
HASMUNI, ST
Wakil
Direktur
|
|
KONTRAKTOR
PT.
TRIO PUSPA PERKASA
SURYADI
Direktur
Utama
|
|
|
1.3.1
Kuasa Pengguna Anggaran
Pemilik
proyek atau pemberi tugas adalah orang atau badan yang memiliki proyek
dan memberikan pekerjaan kepada pihak penyedia jasa dan yang membayar
biaya pekerjaan tersebut. Pemberi tugas dalam surat perjanjian
pemborongan adalah sebagai pihak pertama dan dapat mengambil keputusan
sepihak untuk mengambil alih pekerjaan yang dilakukan, dengan cara menulis
surat kepada kontraktor apabila terjadi hal-hal diluar kontrak yang ditetapkan
dalam undang-undang didalam surat perjanjian kerja (SPK). Pemberi tugas
juga berwenang untuk memberitahukan hasil lelang secara tertulis kepada kontraktor.
Tugas dan wewenang pemilik
proyek adalah:
1.
Menunjuk penyedia jasa
(konsultan dan kontraktor)
2.
Meminta laporan secara
perodik mengenai pelaksanaan pekerjaan yang telah dilakukan oleh penyedia jasa
3.
Memberikan fasilitas
baik sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh pihak penyedia jasa untuk
kelancaran pekerjaan
4.
Menyediakan lahan untuk
tempat pelaksanaan pekerjaan
5.
Menyediakan dana dan
kemudian membayar kepada pihak penyedia jasa sejumlah biaya yang diperlukan
untuk mewujudkan sebuah bangunan.
6.
Ikut mengawasi jalanya
pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan dengan cara menempatkan atau menunjuk
suatu badan atau orang untuk bertindak atas nama pemilik
7.
Mengesahkan perubahan
dalam pekerjaan (bila terjadi)
8.
Menerima dan
mengesahkan pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan oleh penyedia jasa jika
produknya telah sesuai dengan apa yang dikehendaki
9.
Memberikan hasil lelang
secara tertulis kepada masing-masing kontraktor
10.
Dapat mengambil alih
pekerjaan secara sepihak dengan cara memberitahukan secara tertulis kepada
kontraktor jika telah terjadi hal-hal di luar kontrak yang ditetapkan.
1.3.2. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Pejabat
pembuat komitmen merupakan tokoh penting dalam pengadaan barang dan jasa,
karena PPK merupakan orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan
barang/jasa. (PPRI No. 04 tahun 2015). Sehinga PPK bertanggung jawab penuh baik
secara administrasi, teknis dan finansial terhadap pengadaan barang dan jasa.
Adapun tugas dan tanggung jawab PPK yang diatur dalam Peraturan Presiden
Republik Indonesia No. 04 tahun 2015 pasal 11 adalah sebagai berikut:
1.
Menetapkan
rencana pelaksanaan pengadaan bara/jasa yang meliputi spesifikasi teknis
barang/jasa, harga perkiraan sendiri (HPS), dan rancangan kontak.
2.
Menerbitkan
surat penunjukan penyediaan barang/jasa.
3.
Menyetujui bukti
pembelian dan menandatangani kuitansi/surat perintah kerja (SPK) atau surat
perjanjian.
4.
Melaksanakan
kontrak dengan penyediaan barang dan jasa.
5.
Mengendalikan
pelaksanaan kontrak.
6.
Melaporkan
pelaksanaan dan menyerahkan hasil pekerjaan.
7.
Menyerahkan
hasil pekerjaan pengadaan barang/jasa kepada PA/KPA dengan berita acara penyerahan.
8.
Melaporkan
kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan pelaksanaan
pekerjaan kepada PA/KPA setip triwulan.
9.
Menyimpan dan
menjaga seluruh dokumen pelaksanaan barang/jasa.
1.3.3.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
(PPTK)
Pejabat
pelaksana teknis kegiatan merupakan tokoh penting dalam pengadaan barang dan
jasa, karena PPTK merupakan orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan
pengadaan barang/jasa. Sehingga PPTK bertanggung jawab secara administrasi,
teknik dan finansial terhadap pengadaan barang dan jasa.
Adapun
tugas dan tanggung jawab PPTK yang diatur dalam peraturan adalah sebagai
berikut:
1.
Menetapkan
rencana pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang meliputi spesifikasi teknis
barang/jasa, Harga Perkiraan Sendiri (HPS), dan rancangan kontrak.
2.
Menerbitkan
surat penunjukan penyedia barang/jasa.
3.
Menyetujui bukti
pembelian atau menandatangani kuitansi/Surat Perintah Kerja (SPK)/surat
perjanjian.
4.
Melaksanakan
kontrak dengan penyedia barang/jasa.
5.
Mengendalikan
pelaksanaan kontrak.
6.
Melaporkan pelaksanaan
dan menyerahkan hasil pekerjaan.
7.
Menyerahkan
hasil pekerjaan pengadaan barang/jasa kepada PA/KPA dengan berita acara
penyerahan.
8.
Melaporkan
kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan pelaksanaan
pekerjaan kepada PA/KPA.
9.
Menyimpan dan
menjaga seluruh dokumen pelaksanaan pengadaan barang/jasa.
1.3.4.
Konsultan Perencana
Konsultan
perencana berfungsi untuk membantu pengelola proyek dalam memberikan penjelasan
pekerjaan pada waktu pelelangan, serta memberikan penjelasan terhadap
persoalan-persoalan yang timbul selama tahap konstruksi. Dalam merencanakan
suatu proyek konsultan perencana harus mengawasi tujuan dibangunnya bangunan
tersebut, anggaran biaya yang tersedia dan juga keadaan lingkungan yang
berhubungan dengan perencanaan. Setelah memperoleh data-data tersebut barulah
dibuat gambar rencana, detail serta syarat-syarat dalam perencana proyek.
Tugas dan tanggung jawab Konsultan Perencana dalam melaksanakan proyek
adalah:
1.
Menyelidiki atau
menyurvei keadaan tanah dan mengumpulkan data lapangan yang telah di dapatkan.
2.
Merencanakan
konstruksi gedung, arsitektur, struktur, electrical, dan mechanical, pluming,
site development dan lain-lainnya.
3.
Membuat rencana
kerja dan syarat-syarat, daftar perhitungan volume dan rencana anggaran biaya.
4.
Mempersiapkan
seluruh dokumen proyek yang berisikan syarat-syarat khusus, syarat-syarat umum,
spesifikasi teknis, gambar bestek. penunjukan pelelangan dan perkiraan waktu
pelaksanaan.
5.
Memberikan
penjelasan pelaksanaan pekerjaan kepada pemborong (pelaksana) pada waktu rapat
penjelasan dan melaksanakan pengawasan berkala baik dari segi struktur maupun
arsitekturnya dalam pelaksanaan pekerjaan.
1.3.5. Konsultan Pengawas
Pengawas merupakan suatu badan hukum yang di
percaya oleh pimpinan proyek, agar diperoleh suatu kualitas bangunan yang
maksimal dan sesuai dengan perencanaan. Adapun tugas dan tanggung jawab
pengawas dalam mengawasi pelaksanaan proyek adalah:
1.
Mengawasi
pembangunan proyek baik dari segi kualitas maupun kuantitas bahan bangunan yang
sesuai dengan bestek.
2.
Memeriksa dan
menyetujui perubahan-perubahan penyesuaian desain yang terjadi selama
pelaksanaan pembangunan proyek atau persetujuan bersama.
3.
Mengawasi
penetapan waktu pelaksanaan dalam penyelesaian proyek.
4.
Seksi tata usaha
bertugas dalam administrasi teknis, laporan mingguan, laporan bulanan, laporan
berkala dan lain-lain.
5.
Membuat dan
menyusun as built drawing.
6.
Membuat progress
report dan dokumen untuk serah terima pertama dan kedua pekerjaan pelaksanaan.
7.
Mengontrol
pelaksanaan pengujian terhadap kualitas pekerjaan (quality control).
8.
Mengawasi setiap
item yang telah dikerjakan, agar pembangunan berjalan sesuai kontrak yang ada.
1.3.6. Pelaksana (Kontraktor)
Pelaksana (Kontraktor) adalah badan teknisi yang
bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan dari awal sampai dengan selesainya
pekerjaan tersebut. Hak dan kewajiban kontraktor adalah sebagai berikut:
1.
Menerima
pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan harga yang telah
ditentukan dalam kontrak.
2.
Meminta
fasilitas-fasilitas dalam bentuk sarana dan prasarana dari KPA untuk kelancaran
pelaksanaan pekerjaan sesuai ketentuan kontrak.
3.
Melaporkan
pelaksanaan pekerjaan secara periodik kepada KPA.
4.
Melaksanakan dan
menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan pekerjaan yang telah
ditetapkan dalam kontrak.
5.
Menyerahkan
hasil pekerjaan sesuai dengan jadwal penyerahan pekerjaan yang telah ditetapkan
dalam kontrak.
6.
Setiap melakukan
item pekerjaan harus terlebih dahulu meminta persetujuan konsultan agar tidak
terjadi kesalahan.
7.
Meminta waktu
tambahan pengerjaan, apabila terjadi masalah yang tidak sesuai dengan kontrak.
8.
Membuat laporan
harian, mingguan, dan bulanan.
9.
Membayar ganti
rugi akibat kecelakaan kerja, kecuali disebabkan kelalaian pemilik proyek atau
diluar jam kerja.
Hubungan kerja antara Kuasa Pengguna Anggaran dengan konsultan
pelaksana, kontraktor melaksanakan proyek kemudian menyerahkan hasilnya kepada
Kuasa Pengguna Anggaran dan Kuasa Pengguna Anggaran membayar biaya pelaksanaan
dan imbalan jasa konstruksi kepada kontraktor sesuai dengan perjanjian yang
disetujui dalam tender agar terjadi hubungan harmonis dalam kerja sama.
Hubungan kerja sama
antar Kuasa Pengguna Anggaran dengan konsultan perencana adalah Kuasa Pengguna
Anggaran mempunyai hak untuk memerintah konsultan perencana sesuai dengan
pekerjaan dan konsultan perencana menyerahkan hasil rencananya kepada Kuasa
Pengguna Anggaran (KPA) berupa gambar serta Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Hubungan KPA kepada pihak perencana, pelaksanaan dan pengawasan adalah
hubungan kontrak dimana pihak- pihak telah membuat kesepakatan atau disebut
perjanjian suatu hal dan ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalam
masing-masing kontrak. Dalam hal ini masing-masing pihak harus menjalankan
tugas sesuai isi perjanjian dan akan mendapat haknya sesuai yang dijanjikan
dalam kontrak.
Perencana merealisasikan kepada KPA dalam hal dokumen perencanaan,
sedangkan pelaksana merealisasi terhadap konstruksi dan sebaliknya pengawas
merealisasi terhadap pengawasnya.
|
|
|
Realisasi
dokumen perencanaan
|
|
PERENCANA
CV.
GELORA PRIMA KONSULTAN
EKA SAFITRI , ST
DIREKTRIS
|
|
PELAKSANA
PT.
TRIO PUSPA PERKASA
SURYADI
Direktur
Utama
|
|
PENGAWAS
CV. KARYA
SEABAD CONSULTANT
HASMUNI
, ST
Chief
Engineer
|
|
KUASA PENGGUNA ANGGARAN
(KPA)
M. YUSUF RASYID, ST., M.S.M
|
|
Realisasi konstruksi
|
|
Realisasi pengawasan
|
Keterangan:
1.4.
Konsentrasi
Tinjauan
Dalam pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan
ini yang menjadi konsentrasi tinjauan adalalah Pekerjaan Gelagar (Girder), yang di
mulai penyusunan
bagian potongan-potongan girder, pemasangan kabel strands, perlakuan stressing,
pekerjaan grouting dan perletekan girder pada bantalan jembatan (elastomeric).
1.5.
Tujuan
Tinjauan
Tujuan peninjauan pekerjaan ini
adalah untuk mengetahui dan melihat secara langsung tahapan-tahapan dan proses
pekerjaan yang dilakukan di lapangan. Tujuan tinjauan lain adalah untuk
mengetahui masalah-masalah yang terjadi di lapangan dan jalan keluar untuk
penyelesaian masalah yang ada.
Dalam menghadapi persaingan
dunia kerja yang semakin kompetitif, sangat perlu menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan dari bangku perkuliahan maupun dari lapangan. Oleh sebab itu,
praktik kerja lapangan adalah salah satu sistem untuk memenuhi ilmu pengetahuan
yang didapat dari lapangan selain untuk memenuhi salah satu syarat
menyelesaikan mata kuliah Semester VII (tujuh) di Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Malikussaleh.
BAB
II
LINGKUP PEKERJAAN
2.1
Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan persiapan dimulai dengan membersihkan lokasi proyek kemudian
pemasangan papan nama proyek selanjutnya pemasangan boplang, penyediaan air dan
listrik.
2.1.1. Pembersihan Lokasi
Pembersihan lokasi
pekerjaan bertujuan untuk menghilangkan segala sesuatu yang dapat mengganggu
pelaksanaan pekerjaan seperti hasil bongkaran bangunan lama, pepohonan, semak
belukar, tanah humus dan lain sebagainya.
2.1.2.
Papan Nama Proyek
Papan nama proyek
dibuat dengan maksud dan tujuan agar masyarakat umum mengetahui informasi
kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang sedang dilaksanakan. Tempat pemasangan
papan nama proyek dikoordinasikan dengan pengawas, serta pemilik proyek.
Penempatan pemasangan biasanya dipilih tempat yang mudah dilihat oleh khalayak
ramai.
2.1.3. Pengukuran dan Pemasangan Bowplang
Pemasangan boplang dimulai
setelah lokasi kerja dibersihkan. Pada saat pengukuran, sekaligus dipasang
boplang bangunan, dibuat sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu galian
tanah.
Pemasangan bowplang yang dilakukan
harus membentuk siku dan lurus dimana tiang–tiang boplang berdiri tegak dan
kuat. Ukuran tiang kayu yang dipakai adalah 5/7 cm yang diruncingkan, dan
papan-papan bowplang
yang digunakan berukuran 2/20 cm yang sisi bagian atas diketam rata, dan
dipakukan dengan kuat pada tiang/patok.
2.1.4. Pengadaan Air dan Listrik
Disediakan oleh
kontraktor dengan membuat sumur pompa di tapak atau didatangkan dari luar tapak
dan disediakan pula tempat penampungannya. Airnya harus bersih bebas dari bau,
bebas dari lumpur, minyak dan bahan kimia lain yang merusak. Listrik untuk
bekerja disediakan kontraktor dan diperoleh dari sambungan sementara PLN
setempat selama masa pembangunan berlangsung dan pemasangan diesel untuk
pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan untuk penggunaan sementara atas
persetujuan Konsultan Pengawas/Direksi.
2.1.5. Administrasi, Dokumentasi dan P3K
Pemberi tugas dalam
pelaksanaannya izin bangunan diurus secara administrasi oleh kontraktor. Dalam
setiap kegiatan di lapangan diambil foto dokumentasi saat sebelum, sedang, dan
setelah selesainya pelaksanaan pekerjaan, serta pada waktu lain yang ditentukan
direksi. Keselamatan para pekerja (K3) harus terjamin sesuai dengan persyaratan
yang ditentukan dalam Peraturan Perburuhan atau Persyaratan yang diwajibkan
untuk setiap bidang pekerjaan.
2.2
Pekerjaan
Struktur
2.2.1
Fondasi
Fondasi yang digunakan adalah fondasi tiang
pancang. Pekerjaan fondasi dimulai dengan menancapkan patok kecil pada setiap
titik sebagai penanda tempat pemancangan. Pemancangan dilakukan dengan bantuan
Hammer. Adapun jenis tiang pancang yang digunakan adalah tiang pancang jenis
beton pra cetak dari PT. Wijaya Karya dengan panjang 12 m dan diameter 45
centimeter per satu unit. Jumlah tiang pancang pada satu Abutment adalah 18
lubang, tiap satu lubang dipancang 1 buah tiang. Pada tiap satu lubang diisi
dengan 2/3 bawah isian pasir padat, dan 1/3 atas isian beton K-175
2.2.2
Pengangkuran
Fondasi
Pengangkuran bertujuan untuk menghubungkan
fondasi dengan abutment atau pilar. Rincian angkur yang digunakan Pada fondasi
digunakan tulangan utama 7D16 dan tulangan sengkang Ø10 dengan lilitan spiral
pada tiap tiang pancang. Panjang angkur 3,6 m dan sudut bengkokan 30º.
2.2.3
Lantai
kerja
Lantai kerja pada
abutment di buat dengan adukan beton mutu beton K175 . Luas lantai kerja 35,2 m² tiap masing-masing
sisi abutment dengan ketebalan 10
cm.
2.2.4
Pekerjaan Beton
Bertulang
Pekerjaan beton bertulang dimulai dengan
merangkai tulangan baja sesuai gambar perencanaan. Selanjutnya dipasang
bekisting untuk membentuk penampang beton bertulang, kemudian dicor dengan
adukan beton kedalam bekisting.
Yang termasuk ke dalam ruang lingkup pekerjaan
beton bertulang pada pembangunan jembatan ini adalah:
a.
Struktur
bawah
1.
Abutment
2.
Wing Wall
b.
Struktur
atas
1.
Lantai
Jembatan
2.
Plat Injak
3.
Trotoar
Tulangan yang digunakan
yaitu tulangan polos dan ulir dengan variasi ukuran. Kawat baja yang digunakan
sebagai pengikat berdiameter 1 mm. Untuk papan bekisting digunakan tripleks dan
untuk sambungan digunakan paku biasa ukuran bervariasi. Pengecoran dilakukan
dengan Mixer Truck dari PT. Bohana Jaya Nusantara. Mutu beton yang digunakan
bervariasi. Sebelum pengecoran, dilakukan uji slump dan diambil sampel cetakan
kubus 6 buah.
2.2.5
Pekerjaan Beton
Pra Tegang
Pekerjaan beton pra tegang digunakan sistem
pasca tarik (PosttensionSystem) yaitu
beton di pabrikasi di pabrik kemudian di bawa ke tempat pemasangan untuk
selanjutnya di berikan tegangan (stressing)
dengan cara menarik kabel pada tiap tendon.
Yang termasuk ke dalam ruang lingkup pekerjaan
beton pra tegang pada pembangunan jembatan ini adalah:
1.
Girder
(gelagar memanjang)
2.
Diafragma
(gelagar melintang)
Untuk girder dan
diafragma dipakai tipe PC I Girder dari PT. Wijaya Karya. Penampang girder yang
digunakan I-160-28,6
M
2.2.6
Pemasangan
bekisting lantai kendaraan
Bekisting lantai sangat penting dalam proses pembuatan
lantai karena berpengaruh terhadap bentuk lantai kendaraan. Semakin kuat dan
presisi suatu bekisting maka hasil akhir dari lantai tersebut juga akan baik.
Sehingga diperlukan suatu metode pemasangan bekisting yang baik agar hasil
lantai kendaraan tersebut bisa dikatakan baik.
Bekisting menggunakan tripleks dengan tebal 8 mm dan
dipasang dengan kayu ukuran 2/3” dan dipasang sesuai panjang dan lebar pada
lantai kendaraan jembatan.
2.2.7
Fabrikasi
& pemasangan tulangan plat lantai
Proses
fabrikasi adalah merupakan tahap pekerjaan pembesian yang pertama kali, dan
merupakan proses perakitan tulangan yang telah ditentukan yang meliputi proses
pemotongan, pembengkokan dan penyambungan. Terdapat satu tempat fabrikasi yang
terletak di proyek jembatan
Pada lantai kendaraan digunakan tulangan berdiameter
13 mm dengan jarak antara tulangan memanjang adalah 150 mm dan
digunakan tulangan berdiameter 16 mm
jarak antara tulangan melintang adalah 500 mm.
2.2.8
Pengecoran
beton plat lantai kendaraan dan trotoar
Sebelum pekerjaan pengecoran dimulai, dilakukan
pengecekan pekerjaan tulangan balok dan bekisting oleh konsultan pengawas.
Apabila telah mendapatkan persetujuan melalui surat izin pengecoran dari
konsultan pengawas, maka pekerjaan pengecoran balok dapat dilaksanakan. Proses
pengecoran balok dilakukan bersamaan dengan pelat lantai.
Pengecoran dilakukan sebanyak volume
pada perencanaan dan dilakukannya pengecoran harus dengan hati-hati agar
terjaga homogenitas dan konsistensi sehingga nantinya mendapatkan kuat tekan
diatas perencanaa.
BAB
III
PEKERJAAN YANG DITINJAU
3.1.
Spesifikasi Teknis
Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada Pembangunan Jembatan Buket
Jengkol Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara diikuti selama empat bulan, yaitu mulai
tanggal 23 Juli 2018 sampai dengan tanggal 14 Desember 2018. Bagian pekerjaan yang diamati oleh penulis
adalah dan Pekerjaan Gelagar (Girder). Panjang bentang jembatan yang akan dibangun
yaitu 28,6 m dengan menggunakan 2 buah abutment dan 4 buah girder pracetak tipe
I girder.
3.2.
Klasifikasi
Produk
Girder adalah bagian struktur atas yang
berfungsi menyalurkan beban berupa beban kendaraan, berat sendiri girder dan
beban lainnya yang berada di atas girder tersebut ke bagian struktur bawah.
Adapun tipe girder yang digunakan adalah Beam
I, H=160 cm, P= 28,6 m, CTC=185 cm. Girder
dibagi menjadi 5 segmen. Segmen 1 : 4,3 m, segmen 2 : 5,5 m, segmen 3 :
6 m, segmen 4 : 5,5 m, dan segmen 5 : 4,3 m.
Girder dipesan pada PT. WIJAYA KARYA BETON
wilayah penjualan satu Jl. Gunung Krakatau No. 15 Medan, dengan pabrikasi
produk beton Sumatera Utara Jl. Medan-Binjai Km. 15,5 Deli Serdang.
|
|
Tendon adalah lubang selubung pada girder pra
cetak yang berfungsi sebagai positioning strands yang nantinya akan di
stressing. Diameter tendon yang digunakan yaitu 11 cm dengan jarak antar lubang
tendon yaitu 30 cm.
Material
yang digunakan untuk pembuatan I girder yang digunakan pada pembangunan
jembatan Buket Jengkol sesuia dengan standar-standar yang telah di tetapkan
oleh PT. WIKA BETON. (Sertifikat Mutu
Balok Jembatan Prestressed Concrete I-Girder)
BAB IV
HASIL TINJAUAN DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Tinjauan Pekerjaan
Tinjauan pekerjaan
dalam proyek ini adalah pekerjaan girder tipe I-Girder. Hasil dari peninjauan
selama mengikuti kegiatan proyek ini yang didapat adalah sebagai berikut:
A.
Penyusunan girder
Tiap-tiap segmen
(potongan) girder disusun secara berurutan sesuai dengan urutannya. Girder
disusun serapat mungkin sehingga angkur yang ada pada girder dapat terpasang
maksimal. Adapun guna tersebut yaitu untuk menghindari stressing ulang serta
menjaga pekerjaan agar tetap efisien.
|
|
B.
Install strand
|
|
C.
Pemasangan wedge plate
Wedge plate dipasang setelah instlasi strand selesai dan segera akan di
lakukan stressing. Wedge Plate dikirim ke site dengan material pencegah karat,
misalnya di lumuri sejenis minyak/oli. Persiapan pemasangan wedge plate adalah
:
- Buka pelindung
strand di bagian ujung
- Periksa
panjang stressing
- Stressing
length harus bersih dari serpihan beton yang dapat menghalangi masuknya strand
ke dalam wedge plate
- Posisi strand
tidak boleh saling bersilangan yang dapat mengakibatkan strand terjepit waktu
stressing
D. Pemasangan wedges/baji
Wedges
dipasang sesaat sebelum dilakukan pekerjaan stressing. Prosedur yang dipakai
untuk pemasangan wedges pada wedge plate:
- Tekan wedge plate sampai menyentuh
casting
- Tekan wedge dengan tangan ke dalam
lubang wedge plate
- Kencangkan posisi wedge dengan
memukul wedges biasanya menggunakan pipa besi
Penting : setelah wedge plate dan wedges terpasang,
periksa semua wedges telah terpasang dengan baik dan tidak ada yang
kendur.
A.
Stressing
Struktur
beton balok girder yang akan distresssing harus mencapai minimum kuat tekan
karakteristik yang disyaratkan oleh konsultan perencana.
Stressing dilakukan
atas perintah penyedia jasa dan dengan persetujuan konsultan pengawas. Sebelum
dilakukan stressing sub-penyedia jasa pekerjaaan prestressing harus mangajukan
perhitungan elongasi dan jacking force untuk mendapat persetujuan konsultan
pengawas sebagai acuan untuk pelaksanaan. Selama pelaksanaan stressing harus
dihadari oleh direksi atau wakilnya.
|
|
Stressing
harus dilakukan oleh petugas yang berpengalaman dan mempunyai pengetahuan yang
baik terhadap alat-alat yang digunakan. Kabel harus ditarik pada ujung dan gaya
jack yang ditentukan oleh gambar kerja atau instruksi direksi. Tidak boleh ada
kabel yang di tarik sebagian, lalu ditinggalkan kecuali atas petunjuk gambar
kerja atau direksi.
Tegangan
pada kabel harus diukur dari perpanjangan kawat untaian (elongasi) dan selama
proses penarikan dapat dikendalikan dengan pembacaan alat ukur tekanan. Alat
ukur tekanan menunjukkan gaya yang telah diberikan ke tendon sementara elongasi
berfungsi scbagai counter check. Elongasi yang terjadi harus berada dalam
interval yang dlijinkan yaitu antara -7% sampai +7% (sesuai ACT 318 psl 18.18
dan SK SNI T- 15.1991 psl. 3.1 1.1 8).
Apabila
hasil stressing yang dilakukan tidak memenuhi toleransi yang disyaratkan,
hal-hal yang harus dilakukan adalah:
-
Jika basil elongasi secara grafis masih lebih besar dan +7%, maka
dilakukan lift-off atau memeriksa gaya yang bekerja pada angkur kemudian
dibandingkan dengan gaya angkur hasil perhitungan. Jika masih belum memenuhi
maka harus di release dan dilakukan penarikan ulang.
-
Jika hasil elongasi secara grafis lebih kecil dari -7%, maka dilakukan
penarikan tambahan sampai batas gaya jacking force yang disyaratkan
Tahap – tahap pekerjaan stressing metode DSI :
a.
Pasang Jack force dengan perlengkapannya
b.
Nyalakan jack force, hal ini menandakan dimulai proses
stressing
c.
Proses pengukuran perpanjangan strand dimulai pada pressure 50 Mpa
d.
Tiap kelipatan 50 MPa ukur perpanjangan strand
e.
Pada pressure 150 MPa di ceck beda panjang strand gunanya untuk kontrol
f.
Pressure strand dengan jack force sampai 382,60 MPa. Pressure
382,60 Mpa didapat dari data dan perhitungan sub penyedia jasa sebelum
melaksanakan pekerjaan stressing balok girder
g.
Setelah semua selesai baru hitung elongasi dari tiap lubang girder
4.1.3. Pekerjaan grouting dan finishing
Tahapan-tahapannya
antara lain :
a.
Potong kabel 2
– 3 cm dari muka widges dengan menggunakan mesin gerinda listrik
|
|
Pada lubang grouting angkur dipasang pipa paralon atau besi
atau juga pipa plastik untuk grouting. (Untuk lubang grouting, hendaknya pipa
plastik hendaknya menjadi prioritas terakhir, karena kemungkinan lubang pipa
tersumbat akibat nglepet)
b.
Buat adukan dengan campuran semen dan bahan kimia
c.
Lakukan penutupan pada ujung balok dengan adukan beton
d.
Beton penutup angkur dibiarkan mengering
Crane digunakan untuk
mengangkat benda dengan ukuran besar yang bertujuan untuk meringankan serta
mengefisiensi waktu pengerjaan
4.2.2. Truk Trado
Fungsi truk container adalah sebagai alat mobilisasi untuk
mengangkut bagian-bagian dari girder pada proyek Pembangunan Jembatan Buket
Jengkol Keacamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara.
|
|
4.2.3.
Launching
Gantry
|
|
|
|
Generator adalah alat bantu yang digunakan
sebagai pengganti listrik. Generator pada proyek ini digunakan untuk membantu
stressing balok pra cetak tipe I-Girder.
4.3. Masalah yang Terjadi
di Lapangan
Selama pelaksanaan pekerjaan
ada beberapa permasalahan yang terjadi khususnya pada pekerjaan abutment dan plat lantai.
Masalah-masalah yang terjadi diuraikan sebagai berikut:
Penempatan material
yang kurang terlindungi contohnya material tulangan baja ditempatkan pada tempat yang tidak ada pelapis
atau terpal. Material tulangan juga mengalami kontak langsung dengan sinar
matahari dan hujan karena disimpan ditempat terbuka.Hal ini akan menyebabkan
terjadinya korosi pada material tulangan baja tersebut. Begitu juga
dengan material lainnya yaitu pasir seringkali diabaikan penempatannya dan
tidak dilindungi, sehingga pada saat terjadi hujan maka banyak pasir yang
terbawa oleh air.
|
|
Akses jalan yang kurang baik juga bagian
permasalahan dari pekerjaan ini, karena jalan menuju lokasi masih jalan tanah,
dan apabila terjadi hujan maka jalan akan dipenuhi lumpur sehingga jalan licin
untuk dilalui, ini akan menghambat akses untuk penyediaan material, dan dapat
menghambat pengerjaan.
Faktor cuaca juga sangat berpengaruh pada
proses pekerjaan utamanya pada pekerjaan bagian bawah seperti pekerjaan
abutment, dimana pada pekerjaan ini sering terhambat karena faktor genangan air
yang disebabkan oleh hujan yang terjadi secara terus menerus, dengan adanya genangan
maka membuat pekerjaan akan semakin lama karena harus mengeringkan genangan
terlebih dahulu dengan penyedotan mesin pompa air.
4.3.5.
Kelalaian Pekerja
Selain dari permasalahan
material dan kondisi akses jalan menuju proyek kinerja pekerja juga menjadi
permasalahan dimana banyak pekerja yang
melalaikan prosedur pekerjaan, seperti terlalu banyak bercanda, dan tidak
memperhatikan ketelitian pekerjaan.
Jarak quarry juga menjadi permasalahan dimana
jarak quarry ke lokasi proyek sangat
jauh, sehingga penyediaan material menjadi terjangkau dan membutuhkan waktu
lebih dalam penyediaan material.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil
pengamatan selama Praktek Kerja Lapangan pada Pembangunan Jembatan Buket Jengkol, diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
1.
Proyek pembangunan jembatan buket jengkol memiliki bentang 28,6 m, dan
menggunakan 4 buah gelagar pracetak.
2.
Proyek
pembangunan jembatan Buket Jengkol, Aceh Utara menggunakan girder pracetak
dengan tipe I-Girder yang diproduksi oleh PT. WIKA BETON beralamat Jl. Medan-Binjai Km. 15,5 Deli Serdang.
3.
Satu buah
girder dibagi menjadi 5 buah segmen, dimana segemen pertama memiliki panjang
4,3 m, segmen kedua memiliki panjang 5,5 m, segmen tiga memiliki panjang 6 m,
segmen empat memiliki panjang 5,5 m dan segmen kelima memiliki panjang 4,3 m.
4.
Dalam
satu buah gelagar memiliki 4 lubang
selongsong (tendon) dengan lubang tendon pertama memiliki 5 buah strand, lubang
kedua, tiga, dan empat memiliki 12 buah strand.
5.
Strand yang
digunakan memilki diameter 12,7 mm.
Adapun saran penulis selama
mengikuti praktek kerja lapangan pada pembangunan jembatan buket jengkol yaitu:
1.
Kepada
kontraktor pelaksana agar dapat menerapkan
sistem manajemen K3 yang tujuannya untuk melindungi pekerja,
karena keselamatan kerja yang paling utama.
2.
Dalam penyimapanan material
seperti baja tulangan harap lebih diperhatikan, ataupun dibuat gudang sementara
untuk penyimpanan material agar terlindung dari cuaca dan pencurian.
DAFTAR
PUSTAKA
Badan Standarisasi Nasional. (2013). SNI 2847:2013 Persyaratan beton struktural
untuk bangunan gedung.
Ervianto, Wulfram I. (2006). Manajemen Proyek. Yogyakarta: Andi.
Permen PU No. 05/PRT/M/2014 Tentang pedoman Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (SMK3) konstruksi bidang pekerjaan umum.
Rani, H. A. (2016). Manajemen proyek konstruksi. Cetakan pertama. Yogyakarta: Deepublish
Rostiyanti, S.
F. (2014). Alat berat untuk proyek
konstruksi. Edisi ke-2. Jakarta: Rineka Cipta
LAMPIRAN E
FOTO KEGIATAN
|
Foto saat penyusunan girder
|
|
Foto saat berada di atas Crane
|
|
Foto saat peluncuran girder
|
|
Foto saat penulangan plat lantai
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar