Minggu, 24 Maret 2019

Contoh Laporan PKL teknik SIPIl Jembatan






LAPORAN
PRAKTEK KERJA LAPANGAN

PEMBANGUNAN JEMBATAN BUKET JENGKOL PADA RUAS JALAN PEUREUPOK – PARABOLA  
Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Kurikulum
pada Jurusan Teknik Sipil


Disusun Oleh:

M. IKHSAN FAKHREZA
150110168




JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITA MALIKUSSALEH
2019

LEMBAR PENGESAHAN


Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan judul:
Pembangunan Jembatan Buket Jengkol Pada Ruas Jalan Peureupok - parabola
Dilaksanakan oleh,
Nama Mahasiswa        : M. Ikhsan Fakhreza
Nomor Mahasiswa      : 150110168
Tanggal Pelaksanaan   : 23 Juli 2018 s/d 14 Desember 2018
Tinjauan Pekerjaan      : Pekerjaan Balok (Girder) Pra Cetak
Nomor Inventaris        : -
Pembimbing,


Dr. Ing. Sofyan, ST., MT 
NIP.197508182002121003
Lhoksaumawe,  Januari 2019



Penguji 1,


M. Kabir Ihsan, ST,. MT

 

Ketua Jurusan,


Hamzani, ST., MT
NIP. 197012312005011010
Ketua Pelaksana PKL,


Zulfhazli, ST., MT
NIP. 196703192003122001
Penguji 2,


David Sarana ST., MT

Menyetujui,

KATA PENGANTAR










Assalamu’alaikum wa rahmatullah wabarakatuh.
Puji syukur kehadhirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan ridho-Nya, sehingga Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan judul Pembangunan Jembatan Buket Jengkol Pada Ruas Jalan Peureupok – Parabola dapat diselesaikan. Shalawat dan salam semoga tersampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah merubah peradaban dunia menuju ke peradaban berilmu pengetahuan dan berakhlak mulia. Do’a dan penghormatan juga kepada Sultan Malikusaaleh yang merupakan pemilik nama Universitas Malikussaleh ini.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.                  Bapak Hamzani, ST., MT selaku ketua jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh.
2.                  Bapak Dr. Ing. Sofyan ST., MT selaku dosen pembimbing PKL.
3.                  Bapak M. Kabir Ihsan, ST,. MT selaku dosen penguji 1
4.                  Bapak David Sarana ST., MT selaku dosen penguji 2
5.                  Jajaran pimpinan Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Kabupaten Aceh Utara yang telah menerima penulis untuk melaksanakan PKL di Instansi nya.
6.                  Teman-teman yang telah membantu dan mendukung penulis untuk menyelesaikan laporan ini.
Dalam hal penulisan Laporan Praktek kerja lapangan ini, kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan agar hasil penulisan ke depan dapat menjadi lebih baik lagi. Akhirnya kepada Allah penulis memohon ampun dan kepada pembaca penulis mohon maaf. Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk penulis khususnya dan pembaca umumnya. Terima kasih.
Lhokseumawe, 18 Januari 2018

Penulis,
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh







DAFTAR ISI



DAFTAR GAMBAR













1.1.            Latar Belakang

Pemerintah Aceh melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Aceh Utara telah merencanakan Pembangunan Jembatan Buket Jengkol. Jembatan ini difungsikan sebagai akses penghubung antar desa di Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara. Dengan adanya pembangunan jembatan ini, tentunya akan sangat berguna bagi masyarakat yang tinggal di kecamatan tersebut maupun bagi pendatang yang memiliki tujuan ke kecamatan tersebut dalam hal mobilisasi pergerakan transportasi.
Mengingat sebelumnya memang telah ada jembatan Kayu yang menghubungkan desa di kecamatan tersebut, namun fungsinya tidak efektif sebab lebar jembatan yang sempit dan hanya mampu menerima beban kendaran yang relatif kecil. Oleh sebab itu, pembangunan jembatan ini akan sangat bermanfaat dan diharapkan mempercepat pertumbuhan pendidikan, ekonomi, dan sosial di Kecamatan tersebut.
Sesuai dengan nomor Kontrak: 630/ 21/ 2018, Pembangunan Jembatan Buket Jengkol Pada Ruas Jalan Peurupok – Parabola Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara dibangun dengan dana Rp. 4.680.800.000,00 (Empat Miliar Enam Ratus Delapan Puluh Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah), dengan dana berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2018. Panjang jembatan 28,6 meter dan lebar 7,5 meter (termasuk trotoar). Proses pengadaannya dilakukan dengan cara pelelangan umum yang diikuti oleh beberapa kemitraan.
Pemilik proyek ini adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Aceh Utara. Proyek ini dilaksanakan oleh PT. Trio Puspa Perkasa dengan Konsultan Perencana CV. Gelora Prima Konsultan dan Konsultan Pengawas adalah CV. Karya Seabad Consultant. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 168 (Seratus Enam Puluh Delapan) hari kalender dan masa pemeliharaan 180 (Seratus Delapan Puluh) hari kalender.

1.2.            Lokasi Proyek

Lokasi proyek
Lokasi proyek Pembangunan Jembatan Buket Jengkol Pada Ruas Jalan Peureupok – Parabola terletak di Gampong Cot Tufah Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara Provinsi Aceh.
 














































Gambar 1.1 Peta Kabupaten Aceh Utara

 


Lokasi proyek
 









Gambar 1.2 Lokasi Pembangunan Jembatan Buket Jengkol Pada Ruas Jalan Peureupok – Parabola.
Sumber: Google Earth, Gampong Cot Tufah



1.3.            Struktur Organisasi Proyek

KUASA PENGGUNA ANGGARAN
KEPALA BIDANG OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN
DINAS PEKERJAAN UMUM  DAN PENATAAN RUANG KABUPATEN ACEH UTARA

M. YUSUF RASYID, ST., M.S.M
NIP: 19670616 199101 1 001
PEJABAT PELAKSANA TEKNIS KEGIATAN
KASI PEMELIHARAAN JALAN DAN JEMBATAN BIDANG OPERASIOANAL DAN PEMELIHARAAN DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG ACEH TARA

ZAINUDIN , ST
NIP: 19751213 200604 1 002
KONSULTAN PERENCANA
CV. GELORA PRIMA KONSULTAN

EKA SAFITRI , ST
DIREKTRIS
KONSULTAN PENGAWAS
CV. KARYA SEABAD CONSULTANT

HASMUNI, ST
Wakil Direktur
KONTRAKTOR
PT. TRIO PUSPA PERKASA

SURYADI
Direktur Utama
Struktur organisasi proyek adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada proyek konstruksi dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Unsur yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah:


 









             = Jalur Perintah
             = Jalur Konsultasi
Gambar 1.3 Skema Hubungan Kerja Secara Teknis
                                                                 

1.3.1        Kuasa Pengguna Anggaran

Pemilik proyek atau pemberi tugas adalah orang atau badan yang memiliki proyek dan memberikan pekerjaan kepada pihak penyedia jasa dan yang membayar biaya pekerjaan tersebut. Pemberi tugas dalam surat perjanjian pemborongan adalah sebagai pihak pertama dan dapat mengambil keputusan sepihak untuk mengambil alih pekerjaan yang dilakukan, dengan cara menulis surat kepada kontraktor apabila terjadi hal-hal diluar kontrak yang ditetapkan dalam undang-undang didalam surat perjanjian kerja (SPK). Pemberi tugas juga berwenang untuk memberitahukan hasil lelang secara tertulis kepada kontraktor.
Tugas dan wewenang pemilik proyek adalah:
1.                  Menunjuk penyedia jasa (konsultan dan kontraktor)
2.                  Meminta laporan secara perodik mengenai pelaksanaan pekerjaan yang telah dilakukan oleh penyedia jasa
3.                  Memberikan fasilitas baik sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh pihak penyedia jasa untuk kelancaran pekerjaan
4.                  Menyediakan lahan untuk tempat pelaksanaan pekerjaan
5.                  Menyediakan dana dan kemudian membayar kepada pihak penyedia jasa sejumlah biaya yang diperlukan untuk mewujudkan sebuah bangunan.
6.                  Ikut mengawasi jalanya pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan dengan cara menempatkan atau menunjuk suatu badan atau orang untuk bertindak atas nama pemilik
7.                  Mengesahkan perubahan dalam pekerjaan (bila terjadi)
8.                  Menerima dan mengesahkan pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan oleh penyedia jasa jika produknya telah sesuai dengan apa yang dikehendaki
9.                  Memberikan hasil lelang secara tertulis kepada masing-masing kontraktor
10.              Dapat mengambil alih pekerjaan secara sepihak dengan cara memberitahukan secara tertulis kepada kontraktor jika telah terjadi hal-hal di luar kontrak yang ditetapkan.

1.3.2.      Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)

Pejabat pembuat komitmen merupakan tokoh penting dalam pengadaan barang dan jasa, karena PPK merupakan orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. (PPRI No. 04 tahun 2015). Sehinga PPK bertanggung jawab penuh baik secara administrasi, teknis dan finansial terhadap pengadaan barang dan jasa. Adapun tugas dan tanggung jawab PPK yang diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 04 tahun 2015 pasal 11 adalah sebagai berikut:
1.                  Menetapkan rencana pelaksanaan pengadaan bara/jasa yang meliputi spesifikasi teknis barang/jasa, harga perkiraan sendiri (HPS), dan rancangan kontak.
2.                  Menerbitkan surat penunjukan penyediaan barang/jasa.
3.                  Menyetujui bukti pembelian dan menandatangani kuitansi/surat perintah kerja (SPK) atau surat perjanjian.
4.                  Melaksanakan kontrak dengan penyediaan barang dan jasa.
5.                  Mengendalikan pelaksanaan kontrak.
6.                  Melaporkan pelaksanaan dan menyerahkan hasil pekerjaan.
7.                  Menyerahkan hasil pekerjaan pengadaan barang/jasa kepada PA/KPA dengan berita acara penyerahan.
8.                  Melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan pelaksanaan pekerjaan kepada PA/KPA setip triwulan.
9.                  Menyimpan dan menjaga seluruh dokumen pelaksanaan barang/jasa.

1.3.3.      Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)

Pejabat pelaksana teknis kegiatan merupakan tokoh penting dalam pengadaan barang dan jasa, karena PPTK merupakan orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. Sehingga PPTK bertanggung jawab secara administrasi, teknik dan finansial terhadap pengadaan barang dan jasa.
Adapun tugas dan tanggung jawab PPTK yang diatur dalam peraturan adalah sebagai berikut:
1.                  Menetapkan rencana pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang meliputi spesifikasi teknis barang/jasa, Harga Perkiraan Sendiri (HPS), dan rancangan kontrak.
2.                  Menerbitkan surat penunjukan penyedia barang/jasa.
3.                  Menyetujui bukti pembelian atau menandatangani kuitansi/Surat Perintah Kerja (SPK)/surat perjanjian.
4.                  Melaksanakan kontrak dengan penyedia barang/jasa.
5.                  Mengendalikan pelaksanaan kontrak.
6.                  Melaporkan pelaksanaan dan menyerahkan hasil pekerjaan.
7.                  Menyerahkan hasil pekerjaan pengadaan barang/jasa kepada PA/KPA dengan berita acara penyerahan.
8.                  Melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan pelaksanaan pekerjaan kepada PA/KPA.
9.                  Menyimpan dan menjaga seluruh dokumen pelaksanaan pengadaan barang/jasa.

1.3.4.      Konsultan Perencana

Konsultan perencana berfungsi untuk membantu pengelola proyek dalam memberikan penjelasan pekerjaan pada waktu pelelangan, serta memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang timbul selama tahap konstruksi. Dalam merencanakan suatu proyek konsultan perencana harus mengawasi tujuan dibangunnya bangunan tersebut, anggaran biaya yang tersedia dan juga keadaan lingkungan yang berhubungan dengan perencanaan. Setelah memperoleh data-data tersebut barulah dibuat gambar rencana, detail serta syarat-syarat dalam perencana proyek.
Tugas dan tanggung jawab Konsultan Perencana dalam melaksanakan proyek adalah:
1.                  Menyelidiki atau menyurvei keadaan tanah dan mengumpulkan data lapangan yang telah di dapatkan.
2.                  Merencanakan konstruksi gedung, arsitektur, struktur, electrical, dan mechanical, pluming, site development dan lain-lainnya.
3.                  Membuat rencana kerja dan syarat-syarat, daftar perhitungan volume dan rencana anggaran biaya.
4.                  Mempersiapkan seluruh dokumen proyek yang berisikan syarat-syarat khusus, syarat-syarat umum, spesifikasi teknis, gambar bestek. penunjukan pelelangan dan perkiraan waktu pelaksanaan.

5.                  Memberikan penjelasan pelaksanaan pekerjaan kepada pemborong (pelaksana) pada waktu rapat penjelasan dan melaksanakan pengawasan berkala baik dari segi struktur maupun arsitekturnya dalam pelaksanaan pekerjaan.

1.3.5.      Konsultan Pengawas

Pengawas merupakan suatu badan hukum yang di percaya oleh pimpinan proyek, agar diperoleh suatu kualitas bangunan yang maksimal dan sesuai dengan perencanaan. Adapun tugas dan tanggung jawab pengawas dalam mengawasi pelaksanaan proyek adalah:
1.                  Mengawasi pembangunan proyek baik dari segi kualitas maupun kuantitas bahan bangunan yang sesuai dengan bestek.
2.                  Memeriksa dan menyetujui perubahan-perubahan penyesuaian desain yang terjadi selama pelaksanaan pembangunan proyek atau persetujuan bersama.
3.                  Mengawasi penetapan waktu pelaksanaan dalam penyelesaian proyek.
4.                  Seksi tata usaha bertugas dalam administrasi teknis, laporan mingguan, laporan bulanan, laporan berkala dan lain-lain.
5.                  Membuat dan menyusun as built drawing.
6.                  Membuat progress report dan dokumen untuk serah terima pertama dan kedua pekerjaan pelaksanaan.
7.                  Mengontrol pelaksanaan pengujian terhadap kualitas pekerjaan (quality control).
8.                  Mengawasi setiap item yang telah dikerjakan, agar pembangunan berjalan sesuai kontrak yang ada.

1.3.6.   Pelaksana (Kontraktor)

Pelaksana (Kontraktor) adalah badan teknisi yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan dari awal sampai dengan selesainya pekerjaan tersebut. Hak dan kewajiban kontraktor adalah sebagai berikut:
1.                  Menerima pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan harga yang telah ditentukan dalam kontrak.
2.                  Meminta fasilitas-fasilitas dalam bentuk sarana dan prasarana dari KPA untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai ketentuan kontrak.
3.                  Melaporkan pelaksanaan pekerjaan secara periodik kepada KPA.
4.                  Melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam kontrak.
5.                  Menyerahkan hasil pekerjaan sesuai dengan jadwal penyerahan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam kontrak.
6.                  Setiap melakukan item pekerjaan harus terlebih dahulu meminta persetujuan konsultan agar tidak terjadi kesalahan.
7.                  Meminta waktu tambahan pengerjaan, apabila terjadi masalah yang tidak sesuai dengan kontrak.
8.                  Membuat laporan harian, mingguan, dan bulanan.
9.                  Membayar ganti rugi akibat kecelakaan kerja, kecuali disebabkan kelalaian pemilik proyek atau diluar jam kerja.
Hubungan kerja antara Kuasa Pengguna Anggaran dengan konsultan pelaksana, kontraktor melaksanakan proyek kemudian menyerahkan hasilnya kepada Kuasa Pengguna Anggaran dan Kuasa Pengguna Anggaran membayar biaya pelaksanaan dan imbalan jasa konstruksi kepada kontraktor sesuai dengan perjanjian yang disetujui dalam tender agar terjadi hubungan harmonis dalam kerja sama.
            Hubungan kerja sama antar Kuasa Pengguna Anggaran dengan konsultan perencana adalah Kuasa Pengguna Anggaran mempunyai hak untuk memerintah konsultan perencana sesuai dengan pekerjaan dan konsultan perencana menyerahkan hasil rencananya kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) berupa gambar serta Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Hubungan KPA kepada pihak perencana, pelaksanaan dan pengawasan adalah hubungan kontrak dimana pihak- pihak telah membuat kesepakatan atau disebut perjanjian suatu hal dan ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalam masing-masing kontrak. Dalam hal ini masing-masing pihak harus menjalankan tugas sesuai isi perjanjian dan akan mendapat haknya sesuai yang dijanjikan dalam kontrak.
Perencana merealisasikan kepada KPA dalam hal dokumen perencanaan, sedangkan pelaksana merealisasi terhadap konstruksi dan sebaliknya pengawas merealisasi terhadap pengawasnya.
Gambar 1.4 Skema hubungan kerja secara hukum
Realisasi dokumen perencanaan
PERENCANA
CV. GELORA PRIMA KONSULTAN

EKA SAFITRI , ST
DIREKTRIS
PELAKSANA
PT. TRIO PUSPA PERKASA

SURYADI
Direktur Utama

PENGAWAS
CV. KARYA SEABAD CONSULTANT

HASMUNI , ST
Chief Engineer
KUASA PENGGUNA ANGGARAN
(KPA)

M. YUSUF RASYID, ST., M.S.M

Realisasi  konstruksi
Realisasi pengawasan










Keterangan:
              = Jalur Kontrak
              = Jalur Realisasi     

1.4.            Konsentrasi Tinjauan

Dalam pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan ini yang menjadi konsentrasi tinjauan adalalah Pekerjaan Gelagar (Girder), yang di mulai penyusunan bagian potongan-potongan girder, pemasangan kabel strands, perlakuan stressing, pekerjaan grouting dan perletekan girder pada bantalan jembatan (elastomeric).

1.5.            Tujuan Tinjauan

Tujuan peninjauan pekerjaan ini adalah untuk mengetahui dan melihat secara langsung tahapan-tahapan dan proses pekerjaan yang dilakukan di lapangan. Tujuan tinjauan lain adalah untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi di lapangan dan jalan keluar untuk penyelesaian masalah yang ada.

Dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif, sangat perlu menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dari bangku perkuliahan maupun dari lapangan. Oleh sebab itu, praktik kerja lapangan adalah salah satu sistem untuk memenuhi ilmu pengetahuan yang didapat dari lapangan selain untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan mata kuliah Semester VII (tujuh) di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 



BAB II
LINGKUP PEKERJAAN


2.1              Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan persiapan dimulai dengan membersihkan lokasi proyek kemudian pemasangan papan nama proyek selanjutnya pemasangan boplang, penyediaan air dan listrik.

2.1.1.      Pembersihan Lokasi

Pembersihan lokasi pekerjaan bertujuan untuk menghilangkan segala sesuatu yang dapat mengganggu pelaksanaan pekerjaan seperti hasil bongkaran bangunan lama, pepohonan, semak belukar, tanah humus dan lain sebagainya.

2.1.2.       Papan Nama Proyek

Papan nama proyek dibuat dengan maksud dan tujuan agar masyarakat umum mengetahui informasi kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang sedang dilaksanakan. Tempat pemasangan papan nama proyek dikoordinasikan dengan pengawas, serta pemilik proyek. Penempatan pemasangan biasanya dipilih tempat yang mudah dilihat oleh khalayak ramai.

2.1.3.      Pengukuran dan Pemasangan Bowplang

Pemasangan boplang dimulai setelah lokasi kerja dibersihkan. Pada saat pengukuran, sekaligus dipasang boplang bangunan, dibuat sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu galian tanah.
Pemasangan bowplang yang dilakukan harus membentuk siku dan lurus dimana tiang–tiang boplang berdiri tegak dan kuat. Ukuran tiang kayu yang dipakai adalah 5/7 cm yang diruncingkan, dan papan-papan bowplang yang digunakan berukuran 2/20 cm yang sisi bagian atas diketam rata, dan dipakukan dengan kuat pada tiang/patok.

2.1.4.      Pengadaan Air dan Listrik

Disediakan oleh kontraktor dengan membuat sumur pompa di tapak atau didatangkan dari luar tapak dan disediakan pula tempat penampungannya. Airnya harus bersih bebas dari bau, bebas dari lumpur, minyak dan bahan kimia lain yang merusak. Listrik untuk bekerja disediakan kontraktor dan diperoleh dari sambungan sementara PLN setempat selama masa pembangunan berlangsung dan pemasangan diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan untuk penggunaan sementara atas persetujuan Konsultan Pengawas/Direksi.

2.1.5.      Administrasi, Dokumentasi dan P3K

Pemberi tugas dalam pelaksanaannya izin bangunan diurus secara administrasi oleh kontraktor. Dalam setiap kegiatan di lapangan diambil foto dokumentasi saat sebelum, sedang, dan setelah selesainya pelaksanaan pekerjaan, serta pada waktu lain yang ditentukan direksi. Keselamatan para pekerja (K3) harus terjamin sesuai dengan persyaratan yang ditentukan dalam Peraturan Perburuhan atau Persyaratan yang diwajibkan untuk setiap bidang pekerjaan.

2.2              Pekerjaan Struktur

2.2.1        Fondasi

Fondasi yang digunakan adalah fondasi tiang pancang. Pekerjaan fondasi dimulai dengan menancapkan patok kecil pada setiap titik sebagai penanda tempat pemancangan. Pemancangan dilakukan dengan bantuan Hammer. Adapun jenis tiang pancang yang digunakan adalah tiang pancang jenis beton pra cetak dari PT. Wijaya Karya dengan panjang 12 m dan diameter 45 centimeter per satu unit. Jumlah tiang pancang pada satu Abutment adalah 18 lubang, tiap satu lubang dipancang 1 buah tiang. Pada tiap satu lubang diisi dengan 2/3 bawah isian pasir padat, dan 1/3 atas isian beton K-175

2.2.2        Pengangkuran Fondasi

Pengangkuran bertujuan untuk menghubungkan fondasi dengan abutment atau pilar. Rincian angkur yang digunakan Pada fondasi digunakan tulangan utama 7D16 dan tulangan sengkang Ø10 dengan lilitan spiral pada tiap tiang pancang. Panjang angkur 3,6 m dan sudut bengkokan 30º.

2.2.3       Lantai kerja

Lantai kerja pada abutment di buat dengan adukan beton mutu beton K175 . Luas lantai kerja 35,2 m² tiap masing-masing sisi abutment dengan ketebalan 10 cm.

2.2.4       Pekerjaan Beton Bertulang

Pekerjaan beton bertulang dimulai dengan merangkai tulangan baja sesuai gambar perencanaan. Selanjutnya dipasang bekisting untuk membentuk penampang beton bertulang, kemudian dicor dengan adukan beton kedalam bekisting.
Yang termasuk ke dalam ruang lingkup pekerjaan beton bertulang pada pembangunan jembatan ini adalah:
a.                  Struktur bawah
1.      Abutment
2.      Wing Wall
b.                  Struktur atas
1.      Lantai Jembatan
2.      Plat Injak
3.      Trotoar
Tulangan yang digunakan yaitu tulangan polos dan ulir dengan variasi ukuran. Kawat baja yang digunakan sebagai pengikat berdiameter 1 mm. Untuk papan bekisting digunakan tripleks dan untuk sambungan digunakan paku biasa ukuran bervariasi. Pengecoran dilakukan dengan Mixer Truck dari PT. Bohana Jaya Nusantara. Mutu beton yang digunakan bervariasi. Sebelum pengecoran, dilakukan uji slump dan diambil sampel cetakan kubus 6 buah.

2.2.5       Pekerjaan Beton Pra Tegang

Pekerjaan beton pra tegang digunakan sistem pasca tarik (PosttensionSystem) yaitu beton di pabrikasi di pabrik kemudian di bawa ke tempat pemasangan untuk selanjutnya di berikan tegangan (stressing) dengan cara menarik kabel pada tiap tendon.
Yang termasuk ke dalam ruang lingkup pekerjaan beton pra tegang pada pembangunan jembatan ini adalah:
1.             Girder (gelagar memanjang)
2.             Diafragma (gelagar melintang)
Untuk girder dan diafragma dipakai tipe PC I Girder dari PT. Wijaya Karya. Penampang girder yang digunakan I-160-28,6 M

2.2.6        Pemasangan bekisting lantai kendaraan

Bekisting lantai sangat penting dalam proses pembuatan lantai karena berpengaruh terhadap bentuk lantai kendaraan. Semakin kuat dan presisi suatu bekisting maka hasil akhir dari lantai tersebut juga akan baik. Sehingga diperlukan suatu metode pemasangan bekisting yang baik agar hasil lantai kendaraan tersebut bisa dikatakan baik.
Bekisting menggunakan tripleks dengan tebal 8 mm dan dipasang dengan kayu ukuran 2/3” dan dipasang sesuai panjang dan lebar pada lantai kendaraan jembatan.

2.2.7        Fabrikasi & pemasangan tulangan plat lantai

Proses fabrikasi adalah merupakan tahap pekerjaan pembesian yang pertama kali, dan merupakan proses perakitan tulangan yang telah ditentukan yang meliputi proses pemotongan, pembengkokan dan penyambungan. Terdapat satu tempat fabrikasi yang terletak di proyek jembatan
Pada lantai kendaraan digunakan tulangan berdiameter 13 mm dengan jarak antara tulangan memanjang adalah 150 mm dan digunakan tulangan berdiameter 16 mm jarak antara tulangan melintang adalah 500 mm.

2.2.8        Pengecoran beton plat lantai kendaraan dan trotoar

Sebelum pekerjaan pengecoran dimulai, dilakukan pengecekan pekerjaan tulangan balok dan bekisting oleh konsultan pengawas. Apabila telah mendapatkan persetujuan melalui surat izin pengecoran dari konsultan pengawas, maka pekerjaan pengecoran balok dapat dilaksanakan. Proses pengecoran balok dilakukan bersamaan dengan pelat lantai.
Pengecoran dilakukan sebanyak volume pada perencanaan dan dilakukannya pengecoran harus dengan hati-hati agar terjaga homogenitas dan konsistensi sehingga nantinya mendapatkan kuat tekan diatas perencanaa.

BAB III
PEKERJAAN YANG DITINJAU


3.1.            Spesifikasi Teknis

Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada Pembangunan Jembatan Buket Jengkol Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara diikuti selama empat bulan, yaitu mulai tanggal 23 Juli 2018 sampai dengan tanggal 14 Desember 2018. Bagian pekerjaan yang diamati oleh penulis adalah dan Pekerjaan Gelagar (Girder). Panjang bentang jembatan yang akan dibangun yaitu 28,6 m dengan menggunakan 2 buah abutment dan 4 buah girder pracetak tipe I girder.

3.2.            Klasifikasi Produk

Girder adalah bagian struktur atas yang berfungsi menyalurkan beban berupa beban kendaraan, berat sendiri girder dan beban lainnya yang berada di atas girder tersebut ke bagian struktur bawah.
Adapun tipe girder yang digunakan adalah Beam I, H=160 cm, P= 28,6 m, CTC=185 cm. Girder  dibagi menjadi 5 segmen. Segmen 1 : 4,3 m, segmen 2 : 5,5 m, segmen 3 : 6 m, segmen 4 : 5,5 m, dan segmen 5 : 4,3 m.
Girder dipesan pada PT. WIJAYA KARYA BETON wilayah penjualan satu Jl. Gunung Krakatau No. 15 Medan, dengan pabrikasi produk beton Sumatera Utara Jl. Medan-Binjai Km. 15,5 Deli Serdang.








Gambar 3.0.1 Girder
Gambar 3.1 Girder
 









Gambar 3.2 Strands
            Strand adalah kabel baja yang digunakan pada girder pracetak yang berfungsi sebagai media untuk stressing pada girder tersebut. Strands yang digunakan pada proyek pembangunan jembatan Buket Jengkol, Aceh Utara ini berdiameter D 12,7 mm.









            Tendon adalah lubang selubung pada girder pra cetak yang berfungsi sebagai positioning strands yang nantinya akan di stressing. Diameter tendon yang digunakan yaitu 11 cm dengan jarak antar lubang tendon yaitu 30 cm.
Gambar 3.3 Tendon









         Material yang digunakan untuk pembuatan I girder yang digunakan pada pembangunan jembatan Buket Jengkol sesuia dengan standar-standar yang telah di tetapkan oleh PT. WIKA BETON. (Sertifikat Mutu Balok Jembatan Prestressed Concrete I-Girder)

 

 

 



BAB IV
HASIL TINJAUAN DAN PEMBAHASAN


4.1              Hasil Tinjauan Pekerjaan

Tinjauan pekerjaan dalam proyek ini adalah pekerjaan girder tipe I-Girder. Hasil dari peninjauan selama mengikuti kegiatan proyek ini yang didapat adalah sebagai berikut:
A.    Penyusunan girder
Tiap-tiap segmen (potongan) girder disusun secara berurutan sesuai dengan urutannya. Girder disusun serapat mungkin sehingga angkur yang ada pada girder dapat terpasang maksimal. Adapun guna tersebut yaitu untuk menghindari stressing ulang serta menjaga pekerjaan agar tetap efisien.
Gambar 4.1 Penyusunan girder
 Girder disusun menggunakan bantuan alat berat yaitu crane. Dengan cara potongan girder dikaitkan dengan tali besi kemudian di angkat dengan bantuan crane dan disusun secara berurutan yang dipandu oleh beberapa orang operator.




B.     Install strand
Gambar 4.2 Instalasi strands
Instalasi Strand dipilih cara yang paling efisien dan ekonomis. Untuk simple girder biasanya digunakan dengan cara manual karena girder tersebut relatif pendek. Strand yang keluar dari angkur dan belum distressing atau sebagian telah distressing, untuk waktu lebih dari 3 minggu, sebaiknya ujung kawat untaian yang terbuka tersebut diberi pembungkus untuk melindungi korosi dan untuk pengaman dari kerusakan lain.








C.    Pemasangan wedge plate
Wedge plate dipasang setelah instlasi strand selesai dan segera akan di lakukan stressing. Wedge Plate dikirim ke site dengan material pencegah karat, misalnya di lumuri sejenis minyak/oli. Persiapan pemasangan wedge plate adalah :
-       Buka pelindung strand di bagian ujung
-       Periksa panjang stressing
-       Stressing length harus bersih dari serpihan beton yang dapat menghalangi masuknya strand ke dalam wedge plate
-       Posisi strand tidak boleh saling bersilangan yang dapat mengakibatkan strand terjepit waktu stressing
Gambar 4.3 Pemasangan Wedges








D.    Pemasangan wedges/baji
Wedges dipasang sesaat sebelum dilakukan pekerjaan stressing. Prosedur yang dipakai untuk pemasangan wedges pada wedge plate:
-       Tekan wedge plate sampai menyentuh casting
-       Tekan wedge dengan tangan ke dalam lubang wedge plate
-       Kencangkan posisi wedge dengan memukul wedges biasanya menggunakan pipa besi
Penting : setelah wedge plate dan wedges terpasang, periksa semua wedges   telah terpasang dengan baik dan tidak ada yang kendur.
Gambar 4.4 Pemasangan baji







A.    Stressing
Struktur beton balok girder yang akan distresssing harus mencapai minimum kuat tekan karakteristik yang disyaratkan oleh konsultan perencana.
Stressing dilakukan atas perintah penyedia jasa dan dengan persetujuan konsultan pengawas. Sebelum dilakukan stressing sub-penyedia jasa pekerjaaan prestressing harus mangajukan perhitungan elongasi dan jacking force untuk mendapat persetujuan konsultan pengawas sebagai acuan untuk pelaksanaan. Selama pelaksanaan stressing harus dihadari oleh direksi atau wakilnya.











Gambar 4.5 Pemasangan jack force pada strands

Stressing harus dilakukan oleh petugas yang berpengalaman dan mempunyai pengetahuan yang baik terhadap alat-alat yang digunakan. Kabel harus ditarik pada ujung dan gaya jack yang ditentukan oleh gambar kerja atau instruksi direksi. Tidak boleh ada kabel yang di tarik sebagian, lalu ditinggalkan kecuali atas petunjuk gambar kerja atau direksi.
Tegangan pada kabel harus diukur dari perpanjangan kawat untaian (elongasi) dan selama proses penarikan dapat dikendalikan dengan pembacaan alat ukur tekanan. Alat ukur tekanan menunjukkan gaya yang telah diberikan ke tendon sementara elongasi berfungsi scbagai counter check. Elongasi yang terjadi harus berada dalam interval yang dlijinkan yaitu antara -7% sampai +7% (sesuai ACT 318 psl 18.18 dan SK SNI T- 15.1991 psl. 3.1 1.1 8).
Apabila hasil stressing yang dilakukan tidak memenuhi toleransi yang disyaratkan, hal-hal yang harus dilakukan adalah:
-       Jika basil elongasi secara grafis masih lebih besar dan +7%, maka dilakukan lift-off atau memeriksa gaya yang bekerja pada angkur kemudian dibandingkan dengan gaya angkur hasil perhitungan. Jika masih belum memenuhi maka harus di release dan dilakukan penarikan ulang.
-       Jika hasil elongasi secara grafis lebih kecil dari -7%, maka dilakukan penarikan tambahan sampai batas gaya jacking force yang disyaratkan
Tahap – tahap pekerjaan stressing metode DSI :
a.       Pasang Jack force dengan perlengkapannya
b.       Nyalakan jack  force, hal ini menandakan dimulai proses stressing
c.       Proses pengukuran perpanjangan strand dimulai pada pressure 50 Mpa
d.      Tiap kelipatan 50 MPa ukur perpanjangan strand
e.       Pada pressure 150 MPa di ceck beda panjang strand gunanya untuk kontrol
f.        Pressure strand dengan jack force sampai 382,60 MPa. Pressure 382,60 Mpa didapat dari data dan perhitungan sub penyedia jasa sebelum melaksanakan pekerjaan stressing balok girder
g.      Setelah semua selesai baru hitung elongasi dari tiap lubang girder

4.1.3.      Pekerjaan grouting dan finishing

Tahapan-tahapannya antara lain :
a.      
Gambar 4.6 Strands dipotong setelah stressing
Potong kabel 2 – 3 cm dari muka widges dengan menggunakan mesin gerinda listrik







Pada lubang grouting angkur dipasang pipa paralon atau besi atau juga pipa plastik untuk grouting. (Untuk lubang grouting, hendaknya pipa plastik hendaknya menjadi prioritas terakhir, karena kemungkinan lubang pipa tersumbat akibat nglepet)
b.      Buat adukan dengan campuran semen dan bahan kimia
c.       Lakukan penutupan pada ujung balok dengan adukan beton
Gambar 4.7 Ujung balok telah ditutup dengan adukan beton









d.      Beton penutup angkur dibiarkan mengering








Crane digunakan untuk mengangkat benda dengan ukuran besar yang bertujuan untuk meringankan serta mengefisiensi waktu pengerjaan





Gambar 4.8 Crane

4.2.2.      Truk Trado

Fungsi truk container adalah sebagai alat mobilisasi untuk mengangkut bagian-bagian dari girder pada proyek Pembangunan Jembatan Buket Jengkol Keacamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara.








Gambar 4.9 Truk Trado

4.2.3.      Launching Gantry

Gambar 4.10 Launching Gantry
Launching gantry adalah mobil gantry crane tujuan khusus yang digunakan dalam kontruksi jembatan. Alat ini digunakan untuk menginstal balok pracetak pada proyek konstruksi jembatan.
Jenis kendaraan excavator yang digunakan pada proyek ini yaitu jenis backhoe. Fungsinya yaitu menggali tanah dan menuangkan tanah sesuai keperluannya.







Gambar 4.11 Backhoe
Generator adalah alat bantu yang digunakan sebagai pengganti listrik. Generator pada proyek ini digunakan untuk membantu stressing balok pra cetak tipe I-Girder.
Gambar 4.12 Generator












4.3.      Masalah yang Terjadi di Lapangan

Selama pelaksanaan pekerjaan ada beberapa permasalahan yang terjadi khususnya pada pekerjaan abutment dan plat lantai. Masalah-masalah yang terjadi diuraikan sebagai berikut:
Penempatan material yang kurang terlindungi contohnya material tulangan baja ditempatkan pada tempat yang tidak ada pelapis atau terpal. Material tulangan juga mengalami kontak langsung dengan sinar matahari dan hujan karena disimpan ditempat terbuka.Hal ini akan menyebabkan terjadinya korosi pada material tulangan baja tersebut. Begitu juga dengan material lainnya yaitu pasir seringkali diabaikan penempatannya dan tidak dilindungi, sehingga pada saat terjadi hujan maka banyak pasir yang terbawa oleh air.







Gambar 4.13 Penempatan Baja Tulangan Tanpa Pelindung


           

Tidak adanya penerapan K3 kepada pekerja contohnya para pekerja tidak menggunakan APD (alat pelindung diri) pada saat bekerja. Hal ini akan membahayakan keselamatan pekerja.








Gambar 4.14 Pekerja yang tidak menggunakan APD




Akses jalan yang kurang baik juga bagian permasalahan dari pekerjaan ini, karena jalan menuju lokasi masih jalan tanah, dan apabila terjadi hujan maka jalan akan dipenuhi lumpur sehingga jalan licin untuk dilalui, ini akan menghambat akses untuk penyediaan material, dan dapat menghambat pengerjaan.







Gambar 4.15 Dump Truck Yang Terjebak Dijalan Lumpur

Faktor cuaca juga sangat berpengaruh pada proses pekerjaan utamanya pada pekerjaan bagian bawah seperti pekerjaan abutment, dimana pada pekerjaan ini sering terhambat karena faktor genangan air yang disebabkan oleh hujan yang terjadi secara terus menerus, dengan adanya genangan maka membuat pekerjaan akan semakin lama karena harus mengeringkan genangan terlebih dahulu dengan penyedotan mesin pompa air.








Gambar 4.16 Genangan Air Pada Galian Pile Cap
4.3.5.       Kelalaian Pekerja
Selain dari permasalahan material dan kondisi akses jalan menuju proyek kinerja pekerja juga menjadi permasalahan  dimana banyak pekerja yang melalaikan prosedur pekerjaan, seperti terlalu banyak bercanda, dan tidak memperhatikan ketelitian pekerjaan.
Jarak quarry juga menjadi permasalahan dimana jarak quarry  ke lokasi proyek sangat jauh, sehingga penyediaan material menjadi terjangkau dan membutuhkan waktu lebih dalam penyediaan material.











BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil pengamatan selama Praktek Kerja Lapangan pada Pembangunan Jembatan Buket Jengkol, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.                  Proyek pembangunan jembatan buket jengkol memiliki bentang 28,6 m, dan menggunakan 4 buah gelagar pracetak.
2.                  Proyek pembangunan jembatan Buket Jengkol, Aceh Utara menggunakan girder pracetak dengan tipe I-Girder yang diproduksi oleh PT. WIKA BETON beralamat Jl. Medan-Binjai Km. 15,5 Deli Serdang.
3.                  Satu buah girder dibagi menjadi 5 buah segmen, dimana segemen pertama memiliki panjang 4,3 m, segmen kedua memiliki panjang 5,5 m, segmen tiga memiliki panjang 6 m, segmen empat memiliki panjang 5,5 m dan segmen kelima memiliki panjang 4,3 m.
4.                  Dalam satu  buah gelagar memiliki 4 lubang selongsong (tendon) dengan lubang tendon pertama memiliki 5 buah strand, lubang kedua, tiga, dan empat memiliki 12 buah strand.
5.                  Strand yang digunakan memilki diameter 12,7 mm.

Adapun saran penulis selama mengikuti praktek kerja lapangan pada pembangunan jembatan buket jengkol yaitu:
1.                  Kepada kontraktor pelaksana agar dapat menerapkan sistem manajemen K3 yang tujuannya untuk melindungi pekerja, karena keselamatan kerja yang paling utama.
2.                  Dalam penyimapanan material seperti baja tulangan harap lebih diperhatikan, ataupun dibuat gudang sementara untuk penyimpanan material agar terlindung dari cuaca dan pencurian.

 

DAFTAR PUSTAKA


Badan Standarisasi Nasional. (2013). SNI 2847:2013 Persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung.
Ervianto, Wulfram I. (2006). Manajemen Proyek. Yogyakarta: Andi.
Permen PU No. 05/PRT/M/2014 Tentang pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) konstruksi bidang pekerjaan umum.
Rani, H. A. (2016). Manajemen proyek konstruksi. Cetakan pertama. Yogyakarta: Deepublish
Rostiyanti, S. F. (2014). Alat berat untuk proyek konstruksi. Edisi ke-2. Jakarta: Rineka Cipta

LAMPIRAN A
LEMBAR ASISTENSI



                                                                         
                                                                         

LAMPIRAN B
GAMBAR BESTEK


LAMPIRAN C
DOKUMEN PROYEK


LAMPIRAN D
DOKUMEN PKL


 

LAMPIRAN E
FOTO KEGIATAN





                                        














Foto saat penyusunan girder














Foto saat berada di atas Crane














                                           
Foto saat peluncuran girder















Foto saat penulangan plat lantai


Tidak ada komentar:

Posting Komentar